Pemerintah Bakal Pangkas Pajak Royalti Penulis Jadi 1,5 Persen

7 hours ago 5

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah menyiapkan insentif pajak bagi penulis buku yang berlaku pada semester II 2026 berupa Pajak Penghasilan (PPh) final atas royalti penulis sehingga turun ke 1,5 persen. Saat ini pajaknya sebesar 6 persen.

Insentif tersebut diumumkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengadakan rapat stimulus semester II 2026 bersama beberapa menteri lainnya di Kabinet Merah Putih.

"Yang pertama tentu yang terkait dengan perpajakan bagi penulis, tadi kita sudah putuskan untuk memberikan insentif pajak untuk penulis diberikan PPh final sebesar 1,5 persen," ujar Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (26/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menyebut kebijakan itu merupakan salah satu janji kampanye Presiden Prabowo Subianto, sehingga akan segera dilaksanakan. Insentif ini berlaku bagi semua penulis yang bukunya memiliki International Standard Book Number (ISBN).

Ditemui di tempat sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan PPh bagi royalti penulis tadinya sebesar 6 persen. Dengan adanya insentif, ditetapkan menjadi 1,5 persen. Ia menjelaskan insentif diberikan untuk mendorong lebih banyak masyarakat menulis buku.

"Jadi dari 6 persen dibuat setengahnya. Kita buat setengah lagi, 6, 3, kita potong setengah lagi jadi 1,5 persen. Pokoknya supaya penulis Indonesia lebih aktif menulis karena bayar pajaknya lebih rendah," ujar Purbaya.

Menurut informasi yang ia terima, jumlah penulis di Indonesia masih sedikit, terutama buku-buku ilmiah. Oleh karena itu, insentif ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak orang yang memiliki kemampuan atau keahlian menulis untuk menghasilkan buku.

Purbaya mengatakan insentif pajak ini juga diharapkan turut mendorong lahirnya lebih banyak buku ilmiah, ekonomi, dan pengetahuan lainnya di Indonesia. Dengan begitu, kebijakan ini bisa mendukung upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan literasi.

"Mungkin setelah bukunya keluar setahun, dua tahun, yang baca jadi pintar. Orang banyak nulis bahasa Indonesia dan yang baca makin banyak juga. Jadi kita lebih terbuka, lebih melek (literasi, red)," ujar Purbaya.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi