Ragu untuk Imunisasi Diduga Jadi Penyebab Tingginya Kasus Campak di RI

5 hours ago 3

CNN Indonesia

Jumat, 13 Mar 2026 11:15 WIB

Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, keraguan masyarakat untuk melakukan imunisasi pada anak jadi penyebab tingginya angka campak di RI. Ilustrasi. Ketua IDAI Piprim Basarah Yanuarso mengatakan, keraguan masyarakat untuk melakukan imunisasi pada anak jadi penyebab tingginya angka campak di RI. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dokter spesialis anak Piprim Basarah Yanuarso menduga, meningkatnya kasus campak di Indonesia belakang tak lepas dari turunnya cakupan imunisasi. Keraguan sebagian masyarakat terhadap vaksinasi jadi salah satu faktor utama.

"Kalau di Indonesia, saya kira yang paling jelas adalah memang keraguan masyarakat untuk melakukan imunisasi pada anaknya," kata Piprim di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta Timur, Kamis (12/3).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Campak sendiri merupakan penyakit infeksi yang sangat menular. Campak disebabkan oleh virus yang menyebar melalui droplet dan udara. Karena sifatnya yang menular, maka cakupan imunisasi harus sangat tinggi agar penularan bisa ditekan.

"Campak itu, kan, cakupan [vaksinasinya] harus tinggi, harus di atas 95 persen dan itu pernah kita capai. Tapi, katakanlah dari 95 persen itu turun menjadi 80 persen aja, itu KLB-nya sudah muncul," jelasnya.

Wabah campak, sebut dia, bakal tetap muncul meski penurunan cakupan imunisasi cenderung sedikit.

Cakupan imunisasi di Indonesia sendiri mengalami penurunan pada tahun 2025 dibandingkan 2024. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), cakupan 2025 per 14 Desember baru mencapai 68,6 persen dari target 80 persen.

Angka tersebut menurun dari capaian tahun 2024 sebesar 87,7 persen.

Selain masalah keraguan terhadap vaksin, Piprim juga menyoroti adanya daerah-daerah dengan cakupan imunisasi yang sangat rendah. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi titik rawan munculnya kasus campak.

"Yang sepanjang pengetahuan saya itu ada daerah-daerah yang memang cakupan MR-nya rendah terus. Misalkan di Aceh, kemudian di Sumatera Barat, di Riau, kemudian di daerah Jawa Timur Tapal Kuda, Madura dan sebagainya. Sumenep ya," kata dia.

Ia bahkan menyebut, ada wilayah dengan cakupan imunisasi yang jauh dari target nasional.

"Pada saat pin MR tahun lalu pun itu ada yang sampai 11 persen aja. Padahal targetnya 90 persen. Kita bayangkan ya. Jadi betul-betul ini sangat memprihatinkan," ujarnya.

Padahal, lanjut Piprim, campak termasuk penyakit yang sebenarnya dapat dicegah. Vaksinnya sudah tersedia dan dapat diakses masyarakat melalui fasilitas kesehatan.

"Untuk sesuatu yang sebetulnya bisa dicegah, vaksinnya ada, buatan Biofarma dan gratis di puskesmas. Tapi masyarakat masih ragu-ragu untuk menggunakannya," katanya.

Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama meningkatkan kembali cakupan imunisasi demi melindungi anak-anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah tersebut.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi