Jakarta -
Sorotan publik selama ini selalu tertuju pada tawa dan kehangatan yang ditampilkan serial Friends. Namun, cerita berbeda justru muncul dari balik layar, saat Lisa Kudrow akhirnya mengungkap pengalaman yang selama ini jarang terdengar.
Pengalaman tersebut tidak selalu menyenangkan. Bertahun-tahun menjalani proses syuting membuatnya harus berhadapan dengan situasi yang cukup keras, jauh dari kesan santai yang terlihat di layar kaca.
"Pasti ada hal-hal jahat yang terjadi di balik layar," kata Lisa Kudrow.
Tekanan terasa semakin nyata saat proses produksi berlangsung di depan ratusan penonton langsung. Kesalahan kecil dalam mengucapkan dialog bisa langsung berujung pada komentar kasar dari tim penulis naskah.
"Jangan lupa kami merekam di depan penonton langsung sebanyak 400 orang, dan jika Anda salah mengucapkan dialog salah satu penulis atau tidak mendapatkan respons yang sempurna, mereka bisa berkata, 'Hei wanita, apa kau gak bisa membaca? Usaha dikit lah. Dia salah mengucapkan dialogku.'" ujarnya.
Cerita itu belum berhenti pada tekanan verbal. Lisa Kudrow juga mengungkap bahwa percakapan di ruang penulis kerap melampaui batas profesional, termasuk membahas fantasi seksual terhadap para aktris utama.
"Mereka juga sering lembur hanya untuk ngebahas fantasi-fantasi seksualnya terhadap Jennifer dan Courteney. Dan itu sering banget," tambahnya.
Nama Jennifer Aniston dan Courteney Cox disebut sebagai sosok yang kerap menjadi bahan pembicaraan tidak pantas tersebut.
Fokus pada pekerjaan menjadi pilihan yang diambil Lisa Kudrow saat itu. Banyak hal terjadi tanpa diketahui publik, sementara ia tetap berusaha menjalani perannya secara profesional.
Kisah ini sebenarnya bukan yang pertama muncul ke permukaan. Akhir 1990-an menjadi momen ketika seorang asisten penulis, Amaani Lyle, mengajukan gugatan terhadap Warner Bros Television.
Gugatan tersebut berisi klaim tentang lingkungan kerja yang dipenuhi komentar seksual dan rasis. Ia bahkan diwajibkan mencatat setiap percakapan yang terjadi di ruang penulis sebagai bagian dari tugasnya.
Proses hukum itu sempat berjalan hingga ke Mahkamah Agung. Hasil akhirnya menolak gugatan tersebut dengan alasan bahwa perilaku kasar tersebut dianggap sebagai bagian dari dinamika kreatif di lingkungan kerja saat itu.
Pengakuan ini membuka perspektif baru terhadap Friends yang selama ini dikenal sebagai tontonan ringan penuh tawa. Cerita di balik layar menunjukkan bahwa popularitas besar tidak selalu berjalan seiring dengan lingkungan kerja yang ideal.
(ikh/ikh)
Loading ...

8 hours ago
4

















































