Selular.ID – Sejujurnya, tidak ada yang memiliki kekuatan untuk dengan mudah mengalahkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).
Mengendalikan sekitar 73% pasar pembuatan chip canggih global, perusahaan yang bermarkas di Taipe, Taiwan itu, beroperasi seperti juara yang tak terkalahkan.
Meski demikian, beberapa penantang utama sedang berusaha mengejar ketinggalan. Tiga produsen yang berada di baris depan itu adalah Intel, Samsung, dan Rapidus.
Intel
Intel adalah perancang chip besar yang juga berupaya menjadi “foundry” (pabrik yang membangun chip untuk perusahaan lain).
Strategi itu ditempuh oleh Intel setelah menderita kerugian yang sangat besar karena hanya memproduksi chips hanya untuk keperluan sendiri.
Strategi ini memisahkan divisi manufaktur menjadi entitas independen agar bisa bersaing dengan raksasa seperti TSMC, menarik pesanan dari perusahaan besar, dan memulihkan dominasinya di industri semikonduktor.
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Ditangan CEO baru Lip-bu Tan, saat ini Intel menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun pabrik baru dan berharap dapat menggunakan teknologi baru dan canggih untuk memimpin pasar.
Meski telah merubah strateginya demi bisa bersaing dengan TSMC, namun kinerja Intel belum terlihat membaik.
Tercatat Intel mengalami kerugian bersih sebesar $3,7 miliar pada kuartal pertama 2026. Rentetan kerugian tampaknya masih harus membayangi Intel. Pasalnya pada 2024, Intel merugi hingga Rp 306 triliun.
Sepanjang 2025, Intel juga masih mengalami tahun yang berat karena restrukturisasi masif. Perusahaan ini membukukan kerugian bersih sekitar USD821 juta pada kuartal I-2025 dan USD2,9 miliar pada kuartal II-2025.
Baca Juga: Dominasi TSMC Terancam, AMD Lirik Samsung Cetak Chip Generasi Terbaru
Perusahaan terus merugi akibat biaya restrukturisasi yang mahal dan kerugian besar pada bisnis manufaktur chip (Intel Foundry).
Selain itu, mereka belum mampu bersaing dalam pasar chip AI dibandingkan para rival yang sudah melejit duluan, seperti Nvidia dan AMD.
Samsung
Samsung adalah pesaing terdekat TSMC. Mereka membuat chip sendiri dan juga membangunnya untuk perusahaan lain.
Meski demikian, klien terkadang berhati-hati menggunakan chip buatan Samsung. Pasalnya, mereka juga bersaing dengan raksasa teknologi Korea Selatan itu di pasar elektronik lainnya.
Rapidus
Rapidus mungkin terasa asing. Memang perusahaan ini bisa dibilang sebagai debutan di industri chip global. Namun perusahaan baru ini punya prospek yang cukup cerah karena didukung langsung oleh pemerintah di Jepang.
Demi mengejar ketertinggalan, Rapidus berencana untuk memproduksi chip canggih secara massal pada 2027. Agar dilirik oleh pengguna, perusahaan bakal mengenakan harga yang lebih rendah daripada TSMC.
Tiga Kekuatan Inti TSMC
Sekarang mari kita kulik mengapa TSMC sangat Sulit dikalahkan, padahal dikepung sejumlah pesaing yang tak kalah dari sisi sumber daya.
Sejatinya erdapat tiga faktor utama yang menjadi competitive advantage TSMC. Ketiganya adalah The Rule of Trust (Aturan Kepercayaan), The “Network” Trap (Jebakan Jaringan), dan The Machine Monopoly (Monopoli Mesin).
-
Aturan Kepercayaan
Bayangkan dunia teknologi seperti dapur restoran. TSMC hanya memasak makanan untuk orang lain. Mereka tidak pernah membuka restoran sendiri untuk bersaing dengan Anda.
Hal ini membuat perusahaan seperti Apple, Nvidia, dan AMD tetap mempercayai TSMC, karena resep rahasia mereka.
-
Jebakan “Jaringan”
Selama 50 tahun terakhir, TSMC telah menyempurnakan jaringan pemasok dan ahli yang sangat besar. Jika perusahaan saingan ingin membangun pabrik untuk menyaingi TSMC, biayanya benar-benar gila-gilaan. Bisa mencapai miliaran dolar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
-
Monopoli Mesin
TSMC bergantung pada mesin khusus dari perusahaan Belanda bernama ASML untuk membuat chip terkecil dan tercepat di dunia.
Karena tidak ada mesin alternatif yang dapat dibeli, bersaing berarti menemukan cara yang benar-benar baru untuk mencetak chip.
Itulah yang terjadi dengan produsen chip China, seperti Huawei yang harus mengerahkan segenap sumber daya mereka untuk memangkas ketertinggalan.
Satu-satunya hal yang berpotensi “mengalahkan” TSMC adalah pergeseran paradigma total dalam cara komputer memproses data (seperti komputasi kuantum), atau gangguan politik regional yang ekstrem.
Itu sebabnya invasi China ke Taiwan selama ini jadi mimpi buruk. Jika skenario itu benar-benar terjadi, perusahaan yang dibangun sejak 21 Februari 1971 itu, bakal hancur dalam sekejap. Layaknya menara Eiffel yang rubuh disapu angin karena terbuat dari Leggo.
Berkat Booming AI Kinerja TSMC Semakin Kinclong
Dominasi TSMC yang luar biasa, pada akhirnya selalu tercermin dari kinerja perusahaan yang membuat iri para pesaingnya.
Tengok saja dalam laporan terbaru, perusahaan yang dipimpin oleh Dr. C.C. Wei itu, membeberkan lonjakan peningkatan penjualan yang signifikan, sebesar 67,9% secara tahunan pada Juni lalu.
Nilainya mencapai NT$442,68 miliar — peningkatan 6,2% dari bulan sebelumnya.
Seperti dilansir dari laman CNBC, laporan itu dipublikasikan pada Senin (13/7), menjelang rilis resmi pendapatan kuartal kedua perusahaan pada Kamis (16/7) pekan ini.
Untuk paruh pertama 2026, total pendapatan TSMC mencapai 2,4 triliun dolar Taiwan baru (NT$74,99 miliar), mewakili peningkatan 35,6% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.
Angka-angka TSMC “cukup kuat,” kata Sravan Kundojjala, seorang analis di SemiAnalysis, mencatat bahwa pendapatan kuartal kedua pembuat chip tersebut melebihi panduan tertinggi sebesar $40,2 miliar.
Hasil ini terjadi di tengah tren penurunan pendapatan bulan Juni secara bulanan selama empat tahun terakhir, tambahnya.
“Situasi permintaan dan penawaran di bidang AI masih cukup ketat dan TSMC kehabisan stok N3, yang menjadi target semua GPU dan CPU AI terkemuka tahun ini,” ujar Sravan Kundojjala.
Produsen chip kontrak terbesar di dunia ini memproduksi semikonduktor untuk berbagai aplikasi, mulai dari ponsel pintar hingga sistem komputasi AI berkinerja tinggi, dengan klien utama termasuk pemimpin teknologi AS seperti Nvidia, Apple, dan Advanced Micro Devices (AMD).
“Kami memperkirakan TSMC berada di jalur yang tepat untuk menghasilkan pendapatan chip AI lebih dari $40 miliar pada tahun 2026, atau mendekati 25% dari total pendapatannya,” kata Kundojjala.
Dalam perkembangan lain, Reuters melaporkan demi mempertahankan dominasinya sebagai produsen chip nomor satu dunia, TSMC berencana untuk menambah dua pabrik pengemasan chip canggih di Taman Sains Chiayi di Taiwan selatan.
Situs berita terkemuka itu mengutip pernyataan yang dibuat oleh Menteri Dewan Sains dan Teknologi Nasional Taiwan, Wu Cheng-wen, pada Minggu (5/7).
Wu mencatat bahwa fasilitas pertama di lokasi tersebut sudah berproduksi massal, dan yang kedua diharapkan akan segera dimulai.


















































