Ilustrasi Prajurit TNI di UN
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) membuka penyelidikan atas dua insiden terpisah yang menewaskan tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas sebagai pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan. Sementara itu, PBB menyatakan kecaman keras dan menegaskan bahwa para penjaga perdamaian tidak boleh dijadikan sasaran tembak dalam kondisi apapun.
Tiga prajurit TNI tersebut gugur dalam rentang waktu kurang dari 48 jam — sebuah duka yang mengguncang Indonesia sekaligus mempertegas betapa berbahayanya medan tugas di Lebanon selatan yang masih membara akibat konflik antara Israel dan kelompok militan Hizbullah.
Israel Tidak Langsung Mengakui Bertanggung Jawab
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui kanal Telegram, militer Israel menyatakan sedang menyelidiki kedua insiden tersebut secara menyeluruh.
"Insiden-insiden tersebut sedang ditinjau secara menyeluruh untuk mengklarifikasi keadaan dan menentukan apakah insiden tersebut diakibatkan oleh aktivitas Hizbullah atau aktivitas IDF," tulis militer Israel, sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Selasa (31/3/2026).
IDF juga menekankan bahwa kedua insiden terjadi di kawasan pertempuran aktif.
"Perlu dicatat bahwa insiden-insiden ini terjadi di area pertempuran aktif, di mana mereka beroperasi melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran," imbuh pernyataan tersebut.
Lebih jauh, militer Israel secara implisit menolak asumsi bahwa pihaknya adalah pelaku.
"Oleh karena itu, tidak boleh diasumsikan bahwa insiden di mana tentara UNIFIL terluka disebabkan oleh IDF," demikian pernyataan IDF, merujuk pada Pasukan Interim PBB di Lebanon (UNIFIL).


















































