Jakarta, CNN Indonesia --
Organisasi Perburuhan Internasional (International Labour Organization/ILO) mengungkap kondisi pasar tenaga kerja global pada 2026 yang tampak stabil di permukaan, tetapi menyimpan persoalan mendasar terkait kualitas pekerjaan.
Dalam laporan Employment and Social Trends 2026, tingkat pengangguran global diproyeksikan bertahan di angka 4,9 persen. Namun di balik itu, sekitar 284 juta pekerja masih hidup dalam kemiskinan ekstrem, serta lebih dari 2 miliar pekerja berada di sektor informal.
ILO menilai stagnasi ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global, perlambatan pertumbuhan produktivitas, serta transformasi struktural yang berjalan lambat. Kondisi tersebut membuat penciptaan pekerjaan berkualitas tertinggal dibanding pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan kondisi ini menciptakan semacam 'ilusi' penyerapan tenaga kerja.
"Situasinya memang ada pekerja yang seolah terserap di pasar tenaga kerja, tapi sebagian besar beralih ke sektor informal. Ini menyebabkan kemiskinan struktural dan pertumbuhan pendapatan riil yang melambat," ujar Bhima kepada CNNIndonesia.com, Rabu (29/4).
Ia menilai penurunan angka pengangguran terbuka tidak serta-merta mencerminkan perbaikan kualitas pasar kerja. Sebaliknya, saat ini banyak pekerjaan yang tersedia justru memiliki upah rendah, minim perlindungan, dan tanpa kepastian kerja.
"Kalau tidak diatasi, statistik pengangguran terlihat menurun, tapi kualitas pekerjaan rendah-baik dari sisi upah, keselamatan kerja, maupun kepastian kerja. Apalagi pekerja informal umumnya tidak punya jenjang karier," katanya.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai indikator pengangguran saja tidak cukup untuk menggambarkan kondisi riil pasar tenaga kerja.
"Secara global terlihat stabil, tapi kalau masuk ke indikator yang lebih dalam, ada selisih besar antara pengangguran resmi dan jobs gap. Artinya banyak orang sebenarnya ingin bekerja, tapi tidak tercatat dalam statistik," ujarnya.
Menurut Yusuf, kondisi ini mencerminkan tingginya underutilization of labor, bukan sekadar pengangguran terbuka. Underutilization of labor adalah kondisi ketika tenaga kerja tidak dimanfaatkan secara optimal, meski mereka secara resmi tidak semuanya tercatat sebagai pengangguran. Sederhananya, orangnya bekerja, tapi kerjanya tidak penuh atau tidak maksimal, misalkan karena jam kerja sedikit atau upah tak layak.
Di saat yang sama, Yusuf mengatakan dominasi sektor informal dan tingginya jumlah pekerja miskin menunjukkan lemahnya kualitas pekerjaan yang tersedia.
Ia juga menyoroti perlambatan transformasi struktural, yakni perpindahan tenaga kerja dari sektor informal ke formal yang seharusnya mendorong produktivitas dan kenaikan upah.
"Sekarang proses itu melambat. Artinya, ekonomi tetap tumbuh, tapi penciptaan pekerjaan berkualitas tidak optimal," jelasnya.
Dalam konteks Indonesia, kondisi ini dinilai berisiko menahan perbaikan struktur ekonomi. Yusuf memperingatkan potensi jebakan kelas menengah dari sisi pasar tenaga kerja.
"Kita tidak lagi cukup kompetitif di sektor padat karya murah, tapi juga belum unggul di sektor berbasis teknologi dan keterampilan tinggi," katanya.
(lau/pta)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
3

















































