Kisah Wanita Iseng Bikin Akun Fansbase Taylor Swift, Dulang Cuan-Jadi Kerjaan Utama

3 hours ago 3

Jakarta -

Apa jadinya kalau kecintaan pada idola berubah jadi sumber penghasilan utama? Bagi Olivia Levin, itu bukan sekadar mimpi.

Perempuan berusia 26 tahun ini membuktikan bahwa menjadi penggemar garis keras Taylor Swift, bisa berkembang menjadi pekerjaan penuh waktu yang serius dan menghasilkan.

Perjalanan Levin dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana, bahkan terasa relevan bagi banyak orang.

Saat berusia 13 tahun, ia merasa tidak punya lingkungan yang memahami kecintaannya pada musik Taylor Swift. Rasa kesendirian itu justru mendorongnya mencari komunitas di internet.


"Saat itu, saya mendambakan komunitas orang-orang di kehidupan nyata saya yang memahami musik dan bersemangat tentang musik Taylor," kata Levin kepada PEOPLE yang dilansir pada Senin (4/5).

"Saya tidak memiliki itu di kehidupan nyata. Tidak ada yang benar-benar peduli. Saya menemukan komunitas online," sambungnya.

Setahun kemudian, ia membuat akun fanbase bernama SwiftiesForEternity di Tumblr dan Instagram. Dari situlah semuanya perlahan berubah.

Akun yang awalnya hanya tempat berbagi rasa suka itu berkembang pesat. Levin tetap konsisten mengelolanya bahkan saat kuliah, hingga akhirnya menarik perhatian Taylor Swift sendiri.

Jumlah pengikutnya terus bertambah, membentuk komunitas Swifties yang solid dari berbagai belahan dunia.

Setelah lulus kuliah dan pindah ke Nashville, Levin sempat menjalani kehidupan normal dengan pekerjaan korporat jarak jauh.

Ia bekerja dari pagi hingga sore, sambil tetap aktif mengurus fanbase-nya di waktu senggang.

Namun, titik balik terjadi pada April 2023. Levin kehilangan pekerjaannya dan harus mencari arah baru.

"Saya sedang melamar pekerjaan lain, dan pada saat yang sama, akun saya mulai populer selama The Eras Tour," ungkap Levin.

"Saya bertemu agen kemitraan merek, dan dia bilang, 'Izinkan saya mencoba mencarikan Anda kesepakatan merek,'" sambungnya.

Keputusan berani pun diambil. Levin mulai menampilkan dirinya lebih personal di akun tersebut, sesuatu yang awalnya ia ragukan.

"Saya bertanya, 'Apakah menurutmu itu akan berhasil di akun penggemar?' Dia menjawab, 'Kita bisa coba.' Dan kami mencobanya," ujar Levin.

"Itu berhasil, dan saya menghasilkan lebih banyak uang daripada yang pernah saya dapatkan di pekerjaan korporat saya." lanjutnya.

[Gambas:Instagram]

Lebih dari satu dekade sejak dibuat, akun SwiftiesForEternity kini memiliki hampir 630 ribu pengikut.

Levin tidak hanya membagikan kabar terbaru tentang idolanya, tetapi juga menganalisis easter egg, membangun diskusi, hingga menciptakan ruang aman bagi para Swifties. Dari situlah ia bisa hidup sepenuhnya sebagai kreator konten.

"Hal itu memungkinkan saya untuk berhenti mencari pekerjaan di perusahaan dan melakukan kesepakatan merek, menjadi kreator penuh waktu," jelasnya.

Kesuksesan itu bahkan membawanya ke langkah berikutnya yang lebih besar. Pada Mei 2024, Levin mendapatkan kontrak penerbitan buku dengan Simon & Schuster.

Buku berjudul The Story of Us: How The Taylor Swift Fandom Changed Our Lives menjadi cara Levin merangkum perjalanan emosional fandom Swiftie, termasuk dampaknya bagi kehidupan banyak orang.

"Sungguh menginspirasi berada di acara-acara tersebut dan kemudian menulis semuanya dalam buku," katanya.

Meski terdengar menyenangkan, pekerjaan ini bukan tanpa tantangan. Kehidupan Levin kini sangat bergantung pada aktivitas Taylor Swift, mulai dari perilisan lagu, tur, hingga kehidupan pribadi sang idola.

"Bagi saya, mengelola akun ini, saya bisa saja sedang makan malam Thanksgiving, tetapi jika Taylor melakukan sesuatu, saya harus membuka ponsel saya. Saya ingin menjadi orang pertama yang mengunggahnya," katanya.

Ia mengakui keseimbangan hidupnya sering naik turun, terutama saat The Eras Tour berlangsung.

"Ada kalanya semuanya sangat sibuk, saat ada perilisan album dan tur," ujarnya.

Namun, setelah tur berakhir dan aktivitas Swift sedikit mereda, Levin kini punya lebih banyak ruang untuk fokus pada proyek lain, termasuk tur bukunya.

Bagi Levin, menjadi Swiftie bukan hanya soal musik, melainkan tentang koneksi manusia yang lebih dalam. Ia percaya komunitas ini punya kekuatan yang jarang dimiliki fandom lain.

"Saya sangat menyukai komunitas kita karena saya benar-benar berpikir tidak akan pernah ada fandom lain seperti kita," tegas Levin.

"Saya rasa tidak akan pernah ada komunitas lain yang berpengaruh dan sepositif ini." sambungnya.

Melalui bukunya, ia ingin membuka pemahaman bahwa Swiftie bukan klub eksklusif.

"Saya harap orang-orang yang bukan Swiftie tetapi penasaran, mungkin mereka yang menghakimi kami, jika mereka membaca buku ini, mereka akan mengerti dan berhenti menghakimi," katanya.

Ia juga berharap para penggemar lama bisa kembali merasakan momen-momen kecil yang mungkin terlupakan.

"Saya ingin buku ini dipenuhi dengan kebahagiaan, sukacita, dan keajaiban murni," tutup Levin.

Kisah ini jadi bukti bahwa di era digital, passion bukan lagi sekadar hobi. Kalau ditekuni dengan konsisten dan cerdas, bahkan jadi fans pun bisa berubah jadi profesi yang nyata.

(ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi